"Bagaimana Mau Sakses kalau Terlalu Banyak 'Ah Tapi'?" Kalimat Viral dari Podcast The Catch Up Club yang Soroti Fenomena Overthinking Anak Muda Indonesia

 

"Bagaimana Mau Sakses kalau Terlalu Banyak 'Ah Tapi'?" Kalimat Viral dari Podcast The Catch Up Club yang Soroti Fenomena Overthinking Anak Muda Indonesia

Senin, 20 April 2026

Foto: Youtube Podcast The Catch Up Club Eps.04 Kejar Sakses Sejak Belia

TujuNews Surabaya-Kalimat itu terdengar ringan, bahkan terkesan seperti candaan biasa. Namun satu kalimat yang diucapkan Sivia Azizah dalam episode "Kejar Sakses Sejak Belia" podcast The Catch Up Club bersama Agatha Pricilla dan Ify Alyssa ternyata mampu menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar tawa.

"Bagaimana mau sakses kalau terlalu banyak 'ah tapi'?" Potongan obrolan santai itu meledak menjadi viral di TikTok, Instagram Reels, dan Threads sejak awal 2026. Alasannya sederhana, terlalu relatable. Banyak anak muda merasa cermin hidupnya ada di sana terjebak dalam keraguan dan deretan alasan, sebelum benar-benar bertindak.

"Ah tapi" bukan sekadar candaan. Di balik kalimat itu, tersimpan gambaran nyata tentang kondisi kesehatan mental Generasi Z yang kian mengkhawatirkan.

Berdasarkan data hasil pemeriksaan CKG Kementerian Kesehatan per 1 Januari 2026, sekitar 27 juta lebih penduduk telah menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa. Hasilnya menunjukkan bahwa gejala depresi dan kecemasan pada kelompok anak sekolah dan remaja jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa dan lansia. Pada kelompok anak usia sekolah dan remaja, sebanyak 4,8 persen atau 363.326 orang terdeteksi mengalami gejala depresi, sementara 4,4 persen atau 338.316 orang menunjukkan gejala kecemasan.

Hal ini juga di dukung oleh survei GoodStat terkait faktor yang menyebabkan Gen z terkena ganggunan mental. Kekhawatiran terhadap masa depan menjadi pemicu utama gangguan mental, dengan proporsi mencapai 60%. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpastian yang besar terkait karier, stabilitas ekonomi, hingga kondisi global. Selain itu, tekanan finansial juga menjadi faktor signifikan 57%, diikuti oleh ekspektasi sosial 42% serta perasaan tidak berdaya terhadap situasi yang berada di luar kendali 36%.

Dampaknya pun terlihat dalam berbagai bentuk gangguan yang mereka alami sehari-hari. Perubahan suasana hati atau mood swing menjadi masalah paling umum dialami 62% responden, disusul gangguan tidur seperti insomnia atau tidur berlebihan dengan 50%. Selain itu, kecemasan berlebih (38%) dan kesulitan mengelola emosi (38%) juga menjadi tantangan yang kerap dihadapi.

Studi Health Collaborative Center (HCC) tahun 2025 menemukan bahwa 50% orang Indonesia mengalami overthinking atau pola pikir negatif yang berulang. Sebanyak 30% di antaranya mengalami ruminasi, kebiasaan terjebak dalam siklus pikiran negatif tentang kejadian masa lalu tanpa menemukan jalan keluar. Kondisi ini paling dominan ditemukan pada kelompok usia muda di bawah 40 tahun, perempuan, serta mereka yang tidak bekerja atau baru saja kehilangan pekerjaan.

Di lingkungan akademik, mahasiswa Gen Z kerap terjebak dalam prokrastinasi, menunda-nunda tugas meski sadar betul akan dampak buruknya. Kecemasan tinggi soal hasil akademik, ditambah gangguan dari aktivitas online, menjadi pemicunya.

Ruminasi memperburuk suasana hati sekaligus menghambat kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah. Pola itulah yang sejalan dengan fenomena "ah tapi" yang begitu familiar: ah tapi takut gagal, ah tapi malu, ah tapi skill belum cukup, ah tapi nanti saja. Alih-alih mendorong aksi, overthinking justru menjadi penghalang terbesar menuju kesuksesan.

The Catch Up Club berhasil menangkap isu ini dengan cara yang ringan dan mengalir. Ketiga host berbagi cerita bahwa banyak perjalanan sukses mereka justru dimulai dari langkah-langkah kecil tanpa terlalu banyak alasan, tanpa terlalu banyak "ah tapi."

Fenomena viral kalimat Sivia Azizah ini sekaligus menjadi bukti nyata kekuatan storytelling di media sosial. Satu potongan podcast bisa membuka diskusi besar tentang kesehatan mental generasi muda.

Pentingnya mengurangi ruminasi dan overthinking secara bertahap: mulai dari mengambil aksi kecil, menjaga pola tidur yang teratur, hingga mencari bantuan profesional jika gejala semakin mengganggu.

Dengan semakin terbukanya percakapan soal kesehatan mental, "ah tapi" dari The Catch Up Club kini bukan sekadar meme. Ia adalah pengingat bahwa mengatasi keraguan dalam diri bisa menjadi langkah pertama yang paling berarti menuju pertumbuhan yang sesungguhnya.


Penulis: Kamea Maritza Virkinadein

# Lifestyle #The Catch Up Club #Overthinking #Mental Health #Gen Z #Viral #Pengembangan Diri.


 

 

 

 

 

                                                                                                                         

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNAIR Satukan Kepedulian!! Bukan Cuma Mahasiswa, Warga Surabaya Ikut Aksi Donor Darah di Kampus B

Viral! Pasar Malem Tjap Toendjoengan 2026, Destinasi 'Hidden Gem' Wisata Malam Surabaya yang Wajib Dikunjungi

Ruang Aman yang Runtuh, Mengupas Kasus Grup Chat Mahasiswa FH UI