Lagu “Sesi Potret” Karya Eńau dan Ari Lesmana : Representasi Perasaan Kehilangan dan Penyesalan

Senin, 20 April 2026, 06:00 WIB

Thumbnail Official Music Video Youtube Sesi Potret Karya Eńau dan Ari Lesmana

TUJUNEWS SURABAYA – Fenomena penggunaan lagu sebagai media untuk menggambarkan perasaan semakin populer di kalangan anak muda. Banyak anak muda merasa bahwa lirik lagu mampu mengatakan apa yang sulit mereka ungkapkan secara langsung. Misalnya, saat sedang patah hati, bahagia, sampai perasaan duka karena kehilangan orang yang dicintai.  

Lagu “Sesi Potret” karya Eńau dan Ari Lesmana hadir sebagai salah satu karya yang kuat secara lirik maupun emosi untuk menggambarkan rasa kehilangan. Lagu ini menceritakan tentang penyesalan seorang anak yang hidup di perantauan dan tidak bisa pulang ke rumah orang tua karena kondisi ekonomi. Namun, setelah keadaanya membaik, momen yang seharusnya penuh haru malah menjadi momen yang pahit karena orang yang selama ini dirindukan ternyata sudah meninggal dunia.

Pada 24 April 2026, lagu ini telah berhasil menduduki posisi ke-14 di Spotify Daily Chart Indonesia, dengan lebih dari 738 ribu pendengar harian dan total lebih dari 24 juta streaming. Bahkan, lagu ini sempat mencapai posisi ke-2 di minggu ke-10.

Pencapaian tersebut tidak lepas dari makna lagu yang merepresentasikan pengalaman kehilangan yang hampir dirasakan oleh semua orang, baik kehilangan anggota keluarga, pasangan, maupun sahabat. Oleh karena itu, ketika lagu ini menyuarakan rindu melalui lirik-lirik yang mendalam dan relatable, serta diiringi oleh nuansa musik yang sendu dan emosional, pendengar pun merasa terhubung dengan lagu tersebut.

Pertama, lirik “Ku bertamu ke rumah barumu”. Kata “rumah barumu” di lirik ini bukan berarti rumah berbentuk bangunan melainkan makam atau kuburan. Makna lirik ini menggambarkan kesedihan saat seseorang tidak bisa menemui kembali orang terkasih di rumah yang penuh kehangatan melainkan bertemu saat ziarah ke makam.

Kedua , lirik “Sesi potret yang selalu ku benci, aneh rasanya kau tak disini, susunan barisannya tak sama lagi,” menggambarkan “sesi potret” sebagai momen foto bersama dengan anggota yang lengkap. Namun, saat salah satu telah pergi maka sesi potret itu terasa berbeda.

Ketiga, lirik “Soal ikhlas ternyata aku masih amatir”. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa mengikhlaskan seseorang yang telah pergi bukanlah hal yang mudah, melainkan sebuah proses panjang yang penuh dengan pergulatan batin. Kata “amatir” dalam lirik tersebut juga menggambarkan posisi seseorang yang masih belajar tentang keikhlasan.

Melalui lagu ini, Eńau juga ingin menyampaikan sekaligus menjadi pengingat  bahwa “waktu itu” akan tiba menghampiri tanpa aba-aba bahkan disaat kita tidak siap sekalipun.

“Lagu yang jadi pengingat saya pribadi dan banyak orang soal 'waktu' dengan orang-orang tercinta. Terkadang gengsi juga menjadi alasan kita mengulur-ulur waktu untuk berjumpa atau memberikan pelukan hangat untuk orang-orang terkasih. Jangan sampai ada kata terlambat, karena benar adanya waktu tidak bisa diulang lagi," kata enau, dikutip dari media popbela.com.

By : Adinda Salsabila Putri Pertiwi

#SesiPotret#MaknaLagu#Lagu2026#Kehilangan




Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNAIR Satukan Kepedulian!! Bukan Cuma Mahasiswa, Warga Surabaya Ikut Aksi Donor Darah di Kampus B

Viral! Pasar Malem Tjap Toendjoengan 2026, Destinasi 'Hidden Gem' Wisata Malam Surabaya yang Wajib Dikunjungi

Ruang Aman yang Runtuh, Mengupas Kasus Grup Chat Mahasiswa FH UI